Mulai menulis hal ini bermula dari hoby-ku mampir di Angkringan Bu Adit, begitu beliau kukenal karena anak terkecilnya bernama Adit yang juga seorang santri di TPA Citra Fiisabilillah. Entah karena nasib anak kost, angkringan jadi tempat paling bersahabat untuk kantong dibandingkan warung-warung samping Masjid yang menawarkan menu lebih beragam. Tapi tentunya bukan masalah kantong yang utama ingin kusoroti di sini, toh walaupun menu di angkringan Bu Adit sangat terbatas tapi ada hikmah yang nilainya lebih mahal dari warung-warung itu.
Angkringan ini terletak di Jalan Krasak, Yogyakarta. Tepat di ujung timur sebelum perempatan Kerasak Timur, bersebrangan dengan bengkel service alat elektronik milik Pak Adit (ini suaminya Bu Adit hehe). Di tempat inilah banyak cerita mampir, di tempat inilah banyak kisah bertaburan, di sini pula remah-remah perjuangan hidup itu tercurah, dan disinilah aku merenungi tentang hidup. Tempat yang memang tidak selalu ramai, namun dimiliki oleh orang yang penuh syukur dan pembelajaran hidup.
Berlebihan? kurasa tidak, orang punya cara masing-masing menikmati hidup begitu juga diriku. di Angkringan Bu Adit kunikmati hidupku. Aku tinggal mendengarkan, mengangguk, menanggapi, mengobservasi, menyimak, dan pastinya harus makan-laaaaah. Yang jelas mengambil hikmah dari setiap obrolan itulah yang paling berkesan, hal yang tidak akan kudapatkan di warung-warung lainnya.
Seperti pagi ini, Selasa 28 Desember 2010. Angkringan sepi dan hanya aku pelanggannya yang datang. Langsung pesan coffiemix plus mie rebus. Lalu duduk manis sambil nulis catatan kecil buat kerangka ide Buku KKE.
“Semogaaa nggak jadi diangkut…” Begitu Bu Adit membuka obrolan.
“Semoga aja Bu…soalnya yang ngelapor kan cuman satu, itu pun ndak jelas. Kalau yang ngelapor ber-Jamaah yaaa mungkin aja bisa kejadian!” Lanjutku sambil melirik beberapa gorengan di depanku, menggiurkan tapi ntar dulu deh. Tunggu minuman selesai dibuat, argh tenggorokan gatal nih.
Kemarin, hari Kamis tepatnya tanggal 23 Desember 2010. Bu Adit memang bercerita kalau Pak Sutar selaku ketua RT 17 yang juga menjabat pegawai kelurahan menyampaikan berita bocoran dari pemerintah kelurahan. Beliau bilang kalau ada warga yang melaporkan soal gerobak-gerobak di pinggir jalan Krasak yang cukup mengganggu, sehingga isue yang muncul adalah setelah Natal akan ada proses penertiban dari kelurahan untuk gerobak di sekitar Jalan Kerasak. Bu Adit dan beberapa orang kerasak mengindikasikan bahwa orang yang melapor ke kelurahan itu adalah orang yang sirik dan tidak suka dengan kondisi pedagang di sepanjang jalan, misalnya saja Pak Tarman dan warung Soto-nya yang baru berdiri 1 bulan terakhir, warung yang unik karena berkuah susu (Mhmmmm promotion!). But whatever…orang-orang yang merasa terancam menganggap ini hanyalah sikap reaktif yang muncul dari sebuah rasa iri pada kemajuan usaha para pedagang di kerasak.
Tentu saja ini membuat Bu Adit shock saat itu. Ia bercerita panjang lebar perihal pelapor yang tidak bertanggung jawab itu. Bu Adit berkeluh kesah kalau angkringannya yang berdiri dengan susah payah dan penghasilannya yang tidak seberapa. Dengan isue penertiban itu, tentu saja Bu Adit harus berpikir lagi bagaimana beradaptasi dengan perubahan tempat ankringanny. Sebenarnya itu belum terjadi, tapi Bu Adit sudah benar-benar mengantisipasi kalaupun hal terburuk itu terjadi.
Waktu berjalan dan seperti sekarang. Tanggal 28 Desember ini, dimana tak ada sama sekali tanda-tanda penertiban akan terjadi. Seperti itulah isue, sesuatu yang membuat orang-orang kecil pusing dan bingung untuk menyikapi. Mungkin inilah yang perlu dimengerti setiap orang yang memiliki derajat sosial yang tinggi. Bahwa orang-orang kecil itu tak memiliki kekuatan kecuali keluh-kesah dan rencana-rencana.
Allah memang memberikan ujian bagi setiap orang dengan kadar kemampuannya masing-masing. Sangat mungkin juga ujian seseorang diwujudkan oleh orang lain. Tapi apakah kita tega menguji seseorang dengan ketidak sadaran kita akan apa yang kita perbuat. Untuk itulah kesadaran itu penting, dengan kesadaran itulah kita bersikap agar orang lain tidak terzhalimi…walaupun hanya dengan kata-kata kita.
Entahlah, siapa yang salah berkata-kata dari warga Krasak soal penertiban gerobak disepanjang jalan itu. Yang jelas kata-kata itu sudah cukup membuat panik orang-orang seperti Bu Adit. Membuat mereka pusing dan bingung. Aku hanya pelanggan yang datang dan menikmati hidangan, tapi aku juga mendengarkan dan tergerak untuk menuliskan…sebuah perenungan dari Suara Angkringan.
0 komentar:
Posting Komentar